Sabtu, 17 Maret 2012 - 14:24:53 WIB
Perusahaan Martua Sitorus Ngemplang Pajak Rp 7,2 Triliun?Kategori: Jakarta - Dibaca: 57 kali

Baca Juga:Membongkar Proyek Permai Group (Bag 3), PT AJ Menang Proyek Rp 27,7 M di Politeknik SriwijayaSudin Dikmen Jakbar Lakukan Pembinaan Berjenjang Jelang UN 2012Ormas Demokrat Desak Kejaksaan Tangkap Yusmada Faizal Kasudin PU Jalan Jakarta BaratDi Jakarta Barat, Bangunan Bermasalah Dilegalkan

Jakarta, Jaya Pos

Sudah delapan bulan sejak dilaporkan ke Kejaksaan Agung (Kejagung), kasus restitusi pajak Wilmar Group senilai Rp 7,2 triliun tidak jelas. Lembaga Adhyaksa dinilai hanya berani mengungkap kasus-kasus receh seperti Dhana Widyatmika, namun tak berani mengusut kasus kakap.

Panitia Kerja (Panja) Pemberantasan Mafia Pajak dari Komisi III DPR berang atas ketidakjelasan kasus yang melilit PT Wilmar Nabati Indonesia (WNI) dan PT Multimas Nabati Asahan (MNA) milik konglomerat Martua Sitorus. “Kasus itu sudah delapan bulan mengendap di kejaksaan.

Orangnya sudah hampir tersangka, tapi kurang jelas arahnya. Jangan hanya berani yang kecil-kecil, yang kakap juga dong,” ungkap anggota Panja dari Fraksi Partai Demokrat, Edy Ramli Sitanggang kepada Jaya Pos di Jakarta, Kamis (15/3) lalu.

Skandal pajak Wilmar Group dilaporkan oleh seorang pegawai Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak M. Isnaeni ke komisi III DPR beberapa bulan lalu. Ada indikasi direksi PT Wilmar dan anak usahanya, PT MNA merekayasa laporan transaksi jual-beli demi mendapatkan restitusi.

Setelah diselidiki, ada empat modus penggelapan pajak yang dilakukan Wilmar Group.

Pertama dengan mendirikan beberapa perusahaan di wilayah berbeda yang memiliki kegiatan usaha di bidang sawit (perdagangan, minyak goreng, dan turunannya).

Kedua, melakukan transaksi fiktif diantara perusahaan dalam grup, merekayasa la­poran keuangan, dan me­lakukan transfer ­pri­cing ­antar­grup.

Ketiga, memiliki izin kawasan berikat yang dilakukan untuk mempermudah tran­saksi antargrup. ­Keem­pat, bekerja sama dengan ok­num Direktorat Jenderal Pajak dan menggunakan faktur pajak fiktif yang dimanfaatkan untuk proses restitusi pajak pertambahan nilai.

Sepak Terjang Martua

Martua Sitorus merupakan pengusaha keturunan China di Indonesia yang diberi marga Sitorus. Nama aslinya adalah Thio Seng Hap dan dipanggil A Hok. Martua lahir 49 tahun lalu di Pematang Siantar, Sumatra Utara. Sarjana ekonomi dari Universitas HKBP Nommensen Medan  itu empat tahun terakhir, namanya bertengger di papan orang terkaya di dunia versi majalah Forbes.

Awalnya Martua bekerja di PT Musim Mas Medan di pabrik es. Karena orangnya rajin dan mampu mengembangkan usaha Musim Mas, bos usaha perdagangan minyak sawit mentah dan sabun cuci itu, Karim, memercayakan penjualan sabun dan minyak sawit mentah kepada Martua.

Martua memulai karir bisnisnya sebagai pedagang minyak sawit dan kelapa sawit di Indonesia dan Singapura. Bisnisnya berkembang pesat karena Kwok Bersaudara terutama William Kwok memasok modal dan memberikan kepercayaan penuh kepada Martua mengembangkan dan mengendalikan bisnisnya di Indonesia.

Ia melebarkan sayapnya dengan bendera Wilmar (singkatan dari William Kwok dan Martua) International Limited. Perusahaan agrobisnis terbesar di Asia ini merupakan perusahaan publik yang tercatat di Bursa Efek Singapura. Di Indonesia, Wilmar memiliki sekitar 48 perusahaan. Salah satunya adalah PT Multimas Nabati Asahan, yang memproduksi minyak goreng bermerek Sania.

Sumber Jaya Pos mengungkapkan bahwa Wilmar sekarang sudah menetap di luar negeri dengan membawa uang hasil ‘rampokannya’.  Wilmar juga disebut sudah mengganti kewarganegaraannya dan menetap di sebuah negara di benua Eropa. Namun sekalipun Wilmar telah ngacir ke luar negeri, masih banyak aset perusahaannya bernilai trilyunan rupiah.

Masih menurut sumber ini, Wilmar Group kini dikendalikan seorang adik Martua. Selain itu, MP Tumanggor mantan Bupati Dairi, juga merupakan orang penting dalam Wilmar Group. Dari kedua orang ini dapat diungkap kejahatan pajak yang dilakukan Wilmar Group.

Jaya Pos mencoba menghubungi MP Tumanggor untuk mendapatkan keterangan seputar masalah yang melilit Wilmar Group, namun telepon seluler mantan bupati tersebut sibuk.

Desakan Panja

Penuntasan kasus pengemplangan pajak oleh Wilmar Group terus mendapat desakan khususnya dari Panja Pemberantasan Mafia Pajak. Aziz Syamsudin dari Fraksi Golkar menyerukan penegak hukum jangan hanya fokus pada kasus Dhana Widyatmika dan Ajib Hamdani.

Skandal dari dua perusahaan raksasa ini, kata dia harus segera ditelusuri karena memakan uang negara yang tak sedikit.
“Uangnya Dhana mah kecil, tapi kasus itu yang lebih banyak, sampai triliun. Kasus DW belum seberapa. Jangan kita dininabobokkan dengan masalah Dhana saja. Usut juga kasus Wilmar dan PT MNA ini,” tegasnya.

Azis juga mempertanyakan Ditjen Pajak, yang tidak menindaklanjuti laporan Isnaeni ini hingga ia melaporkannya ke Komisi III. Padahal, kata dia, laporan Isnaeni ini juga penting untuk memperbaiki internal Ditjen Pajak. “Kenapa Dirjen Pajak tidak respon surat Isnaeni itu. Surat sudah 8 bulan kenapa tidak cepat direspon. Malah Komisi III yang diberikan surat ini. Ada apa, kenapa tidak direspon,” tutur Azis.

Tjatur Sapto Edy dari Fraksi PAN menyatakan, bukan berarti kasus dugaan korupsi Dhana Widyatmika dan Ajib Hamdani tak perlu diusut. Namun, ia mengingatkan agar Ditjen Pajak dan penegak hukum bahu-membahu untuk menelusuri mega skandal lainnya. Panja berharap dalam pertemuan dengan PPATK, Bareskrim dan Ditjen Pajak, kasus dugaan skandal ini dapat segera dituntaskan.
“Kasus Dhana juga harus ditelusuri hingga tuntas.

Kami berharap Ditjen Pajak juga bisa segera usut siapa saja dari internal yang terlibat dalam skandal Wilmar dan PT MNA dan kasus ini juga harus segera dituntaskan,” pungkas Tjatur. L30 P1000


0 Komentar













Isi Komentar :
Nama :
Komentar:
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 



TerpopulerDinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman Kab Pasuruan, Realisasi Drainase di Desa Rejosari Kecamatan (4286)Proyek KA di Sulsel Membawa Petaka, Danyon Zipur Jadi Tersangka (2988)Komentari Kasus e-KTP, Andar: Abraham Samad Itu 'Omdo' (1656)Pandangan Umum Fraksi PDIP, PAN, dan RNB Terhadap Nota Keuangan dan Raperda APBD Kota Depok TA 2018 (1079)PT IIGF Adakan Baksos di Desa Telajung (577)PT Jembatan Nusantara Melakukan Pembohongan Terhadap Pelamar Pekerjaan (432)Proyek Jalan Siduk-Ketapang Rp 27 M Diduga Bermasalah (327)Wujud Sinergitas TNI Polri, Polsek Wates Makan bersama dengan 70 Anggota TNI (283)Ratusan Pekarya KSO Demo PT BBP (237)Diabetes, Ancaman Yang Harus Diwaspadai (226)
Bedah JayaposTangani Sengketa Tanah Damang Tewah Turun LapanganKuala Kurun, Jaya Pos Menangani perkara sengketa tanah antara Esza YM alias Sisi melawan Awat, Ucu dan Tono, ...


PT EBB Supply Puluhan Ribu Ton Solar Perhari ke Penambang di Sei KahayanRehab Sekolah Di Pandeglang Diduga Rawan PenyimpanganBPN Maros Akan Panggil Pemilik Sertifikat Ganda Pada Lahan Proyek Mamminasata Pekerjaan Jalan Pasirkadu-Perdana Dikeluhkan WargaPT. MAJI Diduga Serobot Lahan Kelompok Tani Karya MandiriPeningkatan Jalan Kebonagung Kemangsen Menyimpang Kinerja CV Aura Karya Kontruksi Disoroti Warga Karena Terkesan Asal-Asalan
Laporan KhususWaiting List Keberangkatan Jamaah Haji Kabupaten Ciamis Sudah Mencapai 2030Ciamis, Jaya Pos Dari tahun ke tahun, semakin bertambah warga In­donesia beragama Islam yang daftar ...


Menggali Monumen Quo Lijn, Tim Pusat Sejarah Kepolisian Melakukan PenelitianSiapkan Aparatur Transportasi Handal, Padang Panjang Teken MoU dengan STTDPemkab Mukomuko Memperingati Maulid Nabi Mudammad SAW 1439 H/2017 MImbau Pemkab/Pemkot Ingatkan Masyarakat Lakukan Pencegahan KebakaranPengembangan Pemasaran Melalui OnlinePublikasi Kinerja Setda Kabupaten Bogor Semester II Tahun 2017Bamag Nas Mengabarkan Tentang Terang Kristus