Selasa, 19 Maret 2019 - 06:38:12 WIB
Sekilas Sejarah Keturunan Op Guru Tatea BulanKategori: Laporan Khusus - Dibaca: 179 kali

Baca Juga:Banyak Berkas Palsu Beredar di Imigrasi BlitarDiduga Dianiaya, Puluhan Siswa SMKN 1 Kelautan dan Perikanan Melarikan DiriHampir 1 Tahun Kecamatan Subi Gelap GulitaForak Desak Kejati Jambi Tuntaskan Beberapa Kasus Koruspi

Catatan: Aliman Tua Limbong (Wartawan Jaya Pos) - Bagian Ke Lima

Bercerita tentang sejarah Op Guru Tatea Bulan, tentu kita harus melihat hal ini dari perspektif budaya, diawali dari silsilah Si Raja Batak. Seperti kita ketahui bahwa Si Raja Batak mempunyai 2 anak laki-laki yaitu Op Guru Tatea Bulan dan saudara laki-lakinya Raja Isumbaon.

Jika boleh kami paparkan keterangan salah seorang senior dan pemerhati serta penggiat budaya pada zamannya, Op Agustinus Limbong (almarhum), merujuk dari bukti sejarah dan beberapa buku yang beliau baca, menuliskan/mengatakan bahwa Op Guru Tate Bulan bermigrasi dari perkampungan Sianjur Mula Mula ke Parik Sabungan (sekarang sudah menjadi obyek wisata yang dikelola oleh Dinas Pariwisata Kab Samosir) sedangkan Raja Isombaon bermigrasi dari perkampungan Sianjur Mula Mula ke Sijambur Nabolak (Siogung Ogung pada masa kini). Berdasarkan keterangan tersebut dapat diyakini bahwa putra pertama Op Guru Tatea Bulan lahir di Parik Sabungan.

Namun beberapa keturunan Op Guru Tatea Bulan mengklaim bahwa Op Guru Tatea Bulan tetap bermukim di Sianjur Mula Mula di Desa Huta Urat yang kita kenal saat ini. Hal tersebut tidak serta merta kita terima dan juga tidak boleh dibantah karena seperti kita ketahui, sampai saat ini bukti sejarah yang kita temukan dimana di Desa Huta Urat tersebut telah dibuat sebuah miniatur perkampungan Si Raja Batak lengkap dengan Mual (sumber air) dan Losung yang konon pada zaman dahulu ketika orang Batak membuat sebuah pemukiman selalu akan meninggalkan sebuah Mual dan Losung sebagai media atau alat dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia.

Lantas, bagaimana dengan cerita kelahiran putra pertama Op Guru Tatea Bulan? Menurut para nenek moyang terdahulu (turia-turian) bahwa putra pertama Si Raja Batak yaitu Op Guru Tatea Bulan lahir dari rahim seorang ibu (istri dari Si Raja Batak) Si Boru Basobolon. Menurut cerita pula, putra pertama tersebut lahir menyerupai bola (bulat dan sama sekali tidak berwujud manusia).

Dan masih menurut cerita, setelah melihat kejanggalan tersebut Op Guru Tatea Bulan merasa sangat kecewa dan kesal. Ia pun menyuruh agar putranya yang menyerupai bola tadi dibuang saja ke lembah (jurang).

Mendengar perintah dari suami tercintanya tersebut, Si Boru Baso Bolon pun bersujud serta memanjatkan doa kepada Allah Yang Maha Kuasa (Mula Jadi Nabolon) agar sang pencipta memberi petunjuk padanya karena dia tidak rela jika harus membuang darah dagingnya sendiri.

Konon ceritanya pada zaman itu manusia dapat langsung berkomunikasi dengan Allah Sang Pencipta, yang disebut dengan Hamalimon (semacam Rasul yang dapat langsung berkomunikasi dengan guru-Nya).

Menurut cerita, seketika itu Allah (Mula Jadi Nabolon) memberi pesan/petuah agar Si Boru Baso Bolon mengambil sebatang tanaman (dedaunan bunga) yang sekarang kita kenal dengan tanaman Sambilu. Si Boru Baso Bolon diberi petunjuk untuk menggoreskan sambilu ke gumpalan yang menyerupai bola tersebut. Dan seketika itu pula terdengar suara gemuruh dan halilintar disertai hujan dan angin puting beliung.

Ajaib dan mujizat pun terjadi, gumpalan bola tersebut pun pecah dan tiba-tiba keluar sosok manusia. Namun mohon maaf, manusia tersebut tidak sempurna sebagaimana pada umumnya karena semua sendi di kaki dan tangannya tidak berfungsi dan mulut (moncong) dari Oppung tersebut sedikit maju kedepan menyerupai binatang (santabi disangap ni Oppung i).

Melihat hal tersebut, Op Guru Tate Bulan pun geram dan kesal bercampur sedih. Dan bergumam dalam hati, kenapa hal tersebut bisa terjadi dalam kehidupannya. Dia tidak sadar bahwa takdir dari Yang Maha Kuasa tidak bisa dihindari dan semua sudah diatur dan disiapkan oleh Mula Jadi Nabolon sebagaimana mestinya.

Bayi tersebut sejak lahir hingga beranjak anak-anak tidak bisa duduk dan hanya dapat menggulingkan serta memutar badannya. Dan pada kondisi tersebut, keluarga dari Op Guru Tatea Bulan menyebutnya dengan nama Raja Gumeleng Geleng.

Hari pun berganti minggu, dan minggu berganti bulan, bulan pun berganti tahun, Raja Gumeleng Geleng pun kini beranjak menjadi dewasa, dan di perjalanan waktu tersebut telah lahir dan bertumbuh para adik-adik (saudara-saudara) nya.

Singkat cerita, pada suatu ketika para saudara (adik-adik) nya seperti Saribu Raja, Limbong Mulana, Sagala Raja dan Silau Raja berencana ingin menyiksa Raja Gumeleng Geleng, abangnya itu.

Karena kebencian dan iri hati di benak mereka ber-empat melihat perlakuan dan kasih sayang dari ibu mereka Si Baso Bolon terhadap abangnya tersebut, dimana Raja Gumeleng Geleng diberi nasi putih (indahan pita) sedangkan mereka sebagai adik-adiknya hanya mendapatkan nasi bercampur jagung (indahan jagung) meskipun sudah bersusah payah membanting tulang, membajak sawah di ladang.

Tetapi semua rencana jahat dari para adik-adiknya itu tidak akan pernah terjadi, karena sang ilahi selalu memberi petunjuk dan pesan kepada ibunya Si Baso Bolon melalui tanda dan mimpi.

Menurut cerita, suatu ketika Mula Jadi Nabolon memberikan pesan kepada Si Boru Baso Bolon agar mengantar anak pertama kesayangannya ke salah satu liang (gua) yang kita kenal dengan nama Liang Sakti Batu Gordang. Setelah peristiwa itu dan setelah anak sulungnya tersebut tinggal di sana, sejak itu pula Raja Gumeleng Geleng dijuluki Raja Bias Bias, yang dalam artian secara harafiah bias bermakna kegagalan rencana jahat dari para adiknya.

Oleh karena hal tersebut, sampai sekarang keturunan adiknya berempat mengganti nama abangnya itu menjadi Raja Biak Biak yang konon ceritanya hal tersebut untuk mengurangi hukum dari Allah (Mula Jadi Nabolon) terhadap keturunan-keturunannya akibat ulah dan kejahatan yang mereka lakukan pada zamn dahulu. 

 


0 Komentar













Isi Komentar :
Nama :
Komentar:
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 



TerpopulerProyek Kawasan Wisata Penataran Blitar Abaikan Spek Kadis dan Satker Disbudpar Lempar Tanggung Jawab (59284)Kejanggalan Pengadaan Barang dan Jasa di Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kab Sidoarjo Terciu (51147)Walikota Tanjungbalai Hadiri Seminar Nasional Yang Diselenggarakan Pusat Kajian Selat Malaka USU Me (26212)Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman Kab Pasuruan, Realisasi Drainase di Desa Rejosari Kecamatan (14470)Perempuan Misterius Titip Bayi, Gegerkan Warga Kolelet Picung (13897)BPPT MoU Dengan Pemkab Natuna Kaji Pemanfaatan Teknologi Guna Mendukung Percepatan Pembangunan Dae (13597)Sepasang Kekasih Tewas Di Hotel Kisaran (13506)Kejahatan Freddie Tan, Menjual Aset Triliunan Milik Pemprov DKI Jakarta (12899)Sintong Gultom Bubarkan Rapat Banmus DPRD Setiran Bonaran Situmeang (9220)Perselingkuhan Antar Kepsek Akhirnya Terbongkar (8917)
Bedah JayaposDiduga Kurir Sabu Bergentayangan Di Daerah Sungai SembilanDumai, Jaya Pos Informasi dan sejumlah keterangan yang dirangkum dari masyarakat di wilayah Kecamatan Sungai ...


Korban Tsunami Alami Kerugian, Petinggi Balai TN Ujungkulon Terkesan Lakukan PembiaranKinerja BLP2A Kota Surabaya Layak Di Sorot Terkait Aset Kendaraan dan Kepemilikan BPKBGubernur Sulut Patut Tinjau Kinerja Kadis Kominfo Jety PuluDiduga DD Ganggaeng Tahun 2018 Tak Direalisasi, Kecamatan Picung Ambil Jurus Gubernur Sulut Patut Tinjau Kinerja Kadis Kominfo Jety PuluKontruksi Jalan Paving Baru Mleto Di Korupsi? Pengawasan Dinas Tutup MataProyek Survey Data Base Berbasis Web GIS 1,1 Miliar Terindikasi Fiktif
Laporan KhususLurah Baru Menjadi Semangat Baru Bagi Kelurahan Pondok Cabe IlirTangsel, Jaya Pos Baru tiga bulan menjabat Kepala Kelurahan Pondok Cabe Ilir, Munadi melakukan gebrakan ...


Sekda: Jabatan Pegawai Sesuai Kompetensi Lahirkan Pemerintahan Yang BaikPemkab Tangerang Peduli Pola Hidup Bersih Dan Sehat Di Pondok PesantrenBupati Banyumas Lantik 7 Camat BaruTanah Datar Raih Terbaik I PPD Tiga Tahun Berturut-TurutFachrori Yakinkan Konjen Singapura Berinvestasi di JambiBupati PALI Resmikan 12 Unit Pasar RakyatPemkab Labuhanbatu Terima Penghargaan Nirwasita Tantra Award 2018